JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN

MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF


PENULIS              : RONITA NAIBAHO, S.Pd
                                 CGP ANGKATAN 7 KABUPATEN DELI SERDANG
FASILITATOR    : EKA NURBULAN
PP                          : ROSLIANNA PURBA

SALAM SEJAHTERA BUAT KITA SEMUA
Pertama-tama saya mengucapkan Puji Syukur kepada Tuhan atas berkatnya saya dapat mengikuti pendidikan Calon Guru Penggerak ini dengan baik sampai pada modul terakhir dari modul 1 ini yaitu 1.4 BUDAYA POSITIF . 

Dalam modul 1.4 ini materinya cukup banyak terdiri atas 6 topik yaitu:
1. Disiplin positif dan nilai-nilai kebajikan Universal
2. Teori motivasi, hukuman dan penghargaan, restitusi
3. Keyakinan kelas
4. Kebutuhan dasar manusia dan dunia berkualitas
5. Restitusi; 5 posisi kontrol
6. Restitusi; segitiga restitusi.

Seperti biasanya setelah mengikuti proses pembelajaran dan menyelesaikan berbagai tugas pada LMS modul 1.4 maka membuat jurnal refleksi merupakan tugas setelah berakhirnya modul yang dipelajari sebagai seorang Calon Guru Penggerak. Maka pengalaman selama proses pembelajaran dan perasaan selama mempelajari modul 1. 4 saya sampaikan dalam tulisan ini.

Pelajaran dalam modul 1.4 ini telah selesai maka saya akan menceritakan refleksi seperti biasanya dengan model 4F yang dapat diterjemahkan model 4P yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway yaitu:

1.     Facts( Peristiwa)

2.     Feelings ( Perasaan)

3.     Findings ( Pembelajaran)

4.     Future ( Penerapan 

 

Disini Saya akan mencoba membuat Jurnal Refleksi Dwi mingguan BUDAYA POSITIF Pada Modul 1.4. 

1.     Facts(Peristiwa)

        Kegiatan pada modul 1.4 dimulai dari hari Rabu, 7 Desember 2022 diawali dengan Eksplorasi konsep 1.4.a.4.1-1.4.a.4.6. Untuk mengerjakan tugas ini cukup menyata banyak waktu dan tenaga sehinggan memerlukan waktu yang lebih banyak dari modul - modul sebelumnya. Tugas ini sedikit terlambat saya kerjakan karena pada saat yang sama saya mengikuti pelatihan calon asesor kompetensi yang diadakan selama 5 hari. Pada tanggal 11 Desember kami mengadakan kegiatan ruang kolaborasi dimana waktunya sedikit bergeser karena kesibukan fasilitator. Dalam kegiatan ruang kolaborasi saya merasa disadarkan bahwa tindakan selama ini saya anggap benar ternyata keliru. Dimana posisi kontrol selama ini saya berada pada posisi penghukun, pemberi rasa bersalah, teman dan pemantau, belum sampai pada posisi manager. Dari modul dan ruang kolaborasi ini saya menyadari bahwa posisi kontrol yang saya jalani selama ini keliru dan berdampak negatif bagi murid.

        Pada kegiatan ruang kolaborasi pertama kami dibagi menjadi kelompok kecil. saya mendapat teman yang sama dengan sebelumnya yaitu bergabung dengan bu Winta dan pak Agusman Tambunan. Dalam kelompok kecil kami membahas dan mendiskusikan 4 kasus / masalah pada anak. Dalam diskusi kelompok ini kami saling memberi pendapat dan bekerja sama sehingga tugas kelompok kami dapat selesai dengan baik dan tepat waktu.

        Kegiatan ruang kolaborasi terlaksana pada hari kamis tanggal 15 Desember 2022. dalam kolaborasi ini setiap kelompok kecil memaparkan hasil diskusi masing-masing. Dalam pemaparan dan tanya jawab sangat menarik dan menambah pemahaman saya bahwa setiap anak memiliki alasan melakukan kesalahan, dan setiap masalah yang dilakukan harus kita identifikasi kebutuhan dasar mana yang belum terpenuhi. Pembahasan ini semakin menarik dengan adanya segitiga restitusi. Dimana dalam segitiga restitusi saya semakin paham untuk mencapai posisi kontrol sebagai manajer dan bukan lagi sebagai penghukum dan pemberi rasa bersalah. 

        Kegiatan virtual diakhiri dengan kegiatan elaborasi yang diadakan pada hari Jumat, 16 Desember 2022 pukul 15.15 s/d 17.15 oleh Bapak Melki . Dalam Elaborasi ini, Bapak narasumber sangat luar biasa, sehingga saya bersemangat mengikuti kegiatan ini sampai selesai. 

                 Pada saat Mengerjakan demonstrasi kontekstual saya merasa bahwa untuk berada             pada posisi kontrol diperlukan kesabaran dan bahasa yang santun untuk menuntun                anak menyadari kesalahan dan menemukan solusi permasalahan sehingga kembali               pada keyakina universal. Pada awalnya saya dan murid saya mengalami kesulitan                membuat video, karena konsep restitusi masih baru bagi kami dan selama ini belum              pernah diterapkan di sekolah kami.

2.     Feelings ( Perasaan )

        Perasaan saya sangat senang mengikuti kegiatan pada modul 1.4 Budaya Positif, dan saya disadarkan bahwa posisi kontrol saya selama ini adalah keliru. Dulunya saya kerap marah dan kadang menghukum dan memberi rasa bersalah pada setiap anak yang membuat masalah tanpa menyadarkan bahwa perbuatannya itu melanggar keyakinan. Saya sebelumnya masih pada identitas gagal yaitu pada posisi penghukum dan pemberi rasa bersalah. 

3.     Findings ( Pembelajaran)

        Setelah mempelajari modul 1. 4 ini saya dapat mengetahui bahwa memberi hukuman dan penghargaan bukanlah tindakan yang benar karena dapat membuat anak tidak mandiri dan timbul rasa benci dan iri. Dari modul ini juga saya memahami bahwa setiap anak memiliki alasan melakukan kesalahan, hal ini dilakukan karena ada kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi. 

        Saya tertarik dan disadarka pada beberpa hal berikut ini: Guru tidak dapat mengontrol murid jika murid tidak mengizinkan dirinya dikontrol. Hal ini sesuai dengan filosofi KHD bahwa guru ibarat petani yang hanya dapat mempengaruhi lingkungan agar murid tumbuh sesuai harapan kita. jadi guru tidak punya kendali mengubah murid. Penguatan positif atau bujukan adalah bentuk-bentuk kontrol. Segala usaha  untuk mempengaruhi murid agar mengulangi suatu perilaku tertentu, adalah  suatu usaha untuk mengontrol murid tersebut. Dalam jangka waktu tertentu,  kemungkinan murid tersebut akan menyadarinya, dan mencoba untuk  menolak bujukan kita atau bisa jadi murid tersebut menjadi tergantung pada pendapat sang guru untuk berusaha. Dan terakhir saya sadar dan setuju bahwa perilaku memaksa tidak akan efektif untuk jangka waktu panjang,  dan sebuah hubungan permusuhan akan terbentuk.

        Selama ini saya masih dalam posisi kontrol penghukum dan pemberi rasa bersalah, kadang sebagai teman dan pemantau, namun belum pada posisi menejer. Dari modul dan hasil diskusi saya menyadari bahwa posisi penghukum dan pemberi rasa bersalah merupakan identitas gagal yang dapat menyebabkan dampak perilaku negatif pada murid. Sebagai teman dan pemantau sudah baik namun hanya sampai menghasilkan motivasi ekstrinsik yang artinya anak masih bergantung pada kita. Namun pada posisi kontrol manejer sangatlah tepat karena membimbing anak menyadari kesalahan dan menemukan solusi atas setiap permasalahan. Dan motivasi muncul dari diri sendiri 9Motivasi intrinsik)

        Hal yang paling menarik menurut saya pada modul 1.4 ini adalah Segitiga restitusi. Pada segitiga restitusi ada 3 tahapan yang perlu dilakukan : 1. Menstabilkan identitas, 2. Validasi tindakan yang salah dan 3. Menanyakan keyakinan. Dari beberapa contoh di modul saya menyadari bahwa untuk menjadi guru pada posisi manajer harus sabar dan berbahasa santun tanpa menyalahkan murid atau menyakiti hati murid. Intinya guru harus menstabilkan emosi anak agar anak dapat menyadari keyakinan yang sudah dilanggar dan menemukan solusi sehingga dapat kembali ke lingkungan semula.

4.     Future ( Penerapan)

        Setelah mempelajari modul 1.4 ini yaitu tentang Budaya Positif saya akan berusaha memahami bahwa saya tidak punya kuasa memaksa dan mengkontrol anak. Setiap anak yang melakukan kesalahan atau masalah memiliki alasan karena ada kebutuhan dasarnya yang belum terpenuhu. Sehingga nantinya untuk menghadapi anak yang bermasalah saya akan menerapkan segitiga restitusi agar anak menyadari kesalahan dan keyakinan yang sudah dilanggar dan menentukan solusi atas masalahnya. Untuk kedepannya saya akan mengimplementasikan pemahaman ini pada anak saya dan murid saya. 


Demikianlah yang bisa saya tuliskan, salam gurur penggerak.